Kekuatan Dari Harapan

 


 

Ane lihat di medsos baik FB, IG, Twitter, Wa, dll banyak yg menuliskan harapan optimis di tahun 2021 mendatang, sampai ada yg menyumpahin tahun 2020 kmrn yg dirasa sangat berat karena adanya wabah corona.

 

Padahal klo kita fikirkan secara dewasa dan jernih pergantian tahun dari 2020 ke 2021 ini tidak merubah apapun, wabah corona masih tetap ada, banyak sektor bisnis masih tetap lesu, kehidupan masih tetap berat, angka pengangguran masih tetap tinggi, hutang dan cicilan masih tetap ada, dll

 

Pergantian tahun dari 2020 ke 2021 cuman pergantian tanggalan saja, sama seperti pergantian bulan biasa. Gak ada keajaiban yg terjadi sebenarnya. Tapi kenapa banyak orang optimis menyambut pergantian tahun 2021 ini walaupun tidak realistis ??

 

Hal ini sebenarnya adalah sugesti atau kekuatan dari yg namanya “Harapan“.

 

Kekuatan “Harapan” sendiri sebenarnya udah sering di ceritakan dalam berbagai kebudayaan manusia untuk menghadapi masa2 sulit peradaban manusia. Mulai dari mitologi kotak terlarang Pandora yg saat di buka justru menyebarkan berbagai penyakit dan peperangan di muka bumi tapi di dasar kotak ini menyimpan sebuah obat semua masalah ini yg bernama “Harapan”, sampai cerita berbagai agama yg sebenarnya menawarkan sebuah peng”Harapan” akan surga di akhirat kelak karena suramnya kehidupan di bumi.

 

Pandora

 


 

Semua sugesti “Harapan” ini walaupun tidak real, tapi bisa membuat banyak manusia bertahan dan tabah melewati masa2 sulit bahkan menghadapi kematian sekalipun. Itu sebabnya saat terjadi bencana, perang, maupun wabah banyak manusia menjadi religius dan sering berdoa karena manusia memerlukan sugesti positif yg bernama “Harapan”.

 

Itu sebabnya juga walaupun ane sendiri non-believer tapi ane bisa memahami kenapa banyak orang masih memerlukan agama dan keyakinan, karena agama dan keyakinan sama seperti doa dan harapan tahun baru ini yaitu memberikan sebuah sugesti positif yg bernama “Harapan” walaupun harapan itu sendiri tipis, atau hampir gak mungkin, atau malah gak real sama sekali, tapi pada akhirnya hal itu gak jadi masalah lagi karena yg di perlukan bukan real atau tidak realnya, tapi itu adalah hasil evolusi cognitif bedes cerdas (homo sapien) untuk menenangkan batinnya dalam menghadapi masa2 sulit dan bayang2 kematian.

 


 

Sumber : https://www.wsj.com/articles/in-tough-times

https://www.researchgate.net/publication/327791323

https://www.thedailystar.com/opinion/columns/religion

https://www.bbc.com/indonesia/vert-fut-50001545

https://tirto.id/google-pandemi-corona-membuat